Oktober 27, 2011

Jiwa Yang Menolak Patah

Mengapa ada orang yang mampu terus berjalan meski cobaan menghantamnya bertubi-tubi? Namun kenapa juga yang lainnya justru patah, meski nampaknya ujian dan derita yang di terima relatif lebih ringan? Ada banyak sebab tentu. Tapi salahsatunya adalah, karena orang-orang yang mampu melangkah terus, yang tidak mundur dan tidak berhenti, adalah orang-orang yang "kreatif".Jiwa-jiwa mereka kreatif menemukan celah dan terobosan untuk menjagadiri agar tidak patah, agar tidak berhenti. Tentu, di dalamnya ada sebentuk cinta dari Allah swt, sehingga mereka menemukan kunci-kunci untuk tidak berhenti karena cobaan dan nestapa apa pun. Dan, kunci penyangga itu ternyata ada di mana-mana.

Ia Tidak Berhenti, Karena Cinta Ternyata di Sekelilingnya

Laki-laki itu pejabat tinggi suatu perusahaan swasta, berusia 40-an, belum menikah.
Beberapa tahun lalu, ia menuturkan kisah hidupnya yang paling rahasia dalam sebuah harian nasional, demi berbagi dengan seorang yang tertimpa pengalaman buruk mirip yang pernah ia alami.Laki-laki itu membaca dalam rubrik konsultasi, tentang anak muda yang merasa dirinya kotor dan hidupnya berakhir, karena menjadi korban pelecehan seksual temannya sendiri.

Ternyata, laki-laki 40-an tahun itu, semasa SD,pernah diperlakukan sama. Saat itu ia tengah berwisata di pantai bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Tiba-tiba ia dipanggilbeberapa kakak kelas. Ia menduga akan diajak bermain bersama.Ternyata, di tempat yang jauh dari keramaian, ia mengalami pelecehans eksual, di bawah todongan pisau. Ia sangat terpukul, hingga menangis terus dan mengubur diri di dalam pasir. Sampai sore datang, dan guruserta teman-teman lain yang mencarinya, menemukannya masih di dalam pasir, gemetar.

Bertahun-tahun ia mencoba melupakan peristiwa tragisitu. Ada masa di mana ia merasa sangat membenci para pelaku, yang masih kanak-kanak itu. Ada masa ia merasa tidak sanggup melihat oranglain. Namun pada akhirnya ia mencoba sesuatu yang amat sulit,memaafkan. Satu kata yang terus ia ucapkan hingga dewasa, "maafkan,maafkan." Ia menduga, mereka pun punya masa lalu yang kelam,boleh jadi mereka sebelumnya pernah pula menjadi korban.

Ternyata itulah yang menjadi titik balik ia membukahatinya untuk melihat sisi lain dunianya. Sebelum "terbangun",ia tidak mampu membuka dirinya untuk orang-orang terdekat, untukorang tuanya, untuk adik dan kakaknya yang kesemuanya sudah menikah.Hingga dewasa, ia amat penuh dengan laranya sendiri, dan kehilanganwaktu untuk peduli pada lingkungannya. Ia tenggelam dalam duniakerja, menghasilkan uang berlimpah, yang tak kunjung membuatnya"sembuh".

Kemudian, sewaktu ia memberi perhatian dan kasihsayang pada keluarganya, terutama pada para keponakannya, iamenemukan mutiara cinta ternyata ada di mana-mana. Kini, setiap iadatang ke rumah saudara-saudaranya, anak-anak mereka menyambutnyadengan kegembiraan yang polos. Di sanalah, ia merasa bisa berlabuh,menemukan kebahagiaannya, menemukan kesembuhannya. Malah, olehkeluarganya, ia dijadikan "kepala" keluarga, termasuk olehayah ibunya. Ternyata, mereka telah lama memendam cinta untuknya.Laki-laki itu pun tidak kalah, jiwanya menolak untuk patah, karenacinta ternyata ada di sekelilingnya.

Ia tidakBerhenti, Karena Memilih Tegak Meski Tertatih-tatih

Betapa kerasnya kehidupan di ibukota. Ini tidak dipungkiri siapa pun. Namun, di Jakarta pula, kita bisa menemukan manusia-manusia yang mampu tegak, meski hidupnya diselang-selingi"kejutan" yang tak nyaman. Di halte pasar di bilangan TebetTimur, Jakarta Selatan, misalnya. Sepasang suami istri sejak belasantahun berdiam di kios rokok dan minuman dingin yang sekaligusdijadikan tempat tinggalnya.

Modal yang seadanya, masih harus menanggung hutangpara awak bus yang kerap mangkal di sana. Mereka pun masih harusmembayar berbagai pungutan demi keamanan. Termasuk ke pejabat lokal,demi perijinan. Semua itu, bahkan sudah dijalani sang istri sejakibunya masih hidup. Ia dibawa ibunya merantau ke Jakarta sejakkanak-kanak. Dan, kios itu adalah warisan ibunya, sebelum wafat."Jenazah si Mbok kami bawa ke desa, di sana kan ada kuburandesa. Biaya merawatnya lebih murah. Kalau di sini mahal, nggaksanggup bayar," tuturnya.

Siang itu, percakapan rutin terdengar di halte."Kapan utangnya dibayar? Udah banyak nih, udah 30 ribu,"tutur sang istri pada seorang supir, yang tengah memarkir busnya didepan halte. Sang awak nampak terkejut, seolah tak percaya. "Masaksebanyak itu?" Perempuan itu melanjutkan, "Ini adacatatannya." Suaminya, yang tengah beristirahat di dalam kios,terbangun dan membenarkan istrinya. "Yah, nanti dibayar,"itulah akhirnya jawaban sang awak bus. "Kalau begini terus,modalnya bisa habis," ujar perempuan itu perlahan.

Meski sehari-hari harus hidup amat prihatin, namunseperti diakui perempuan itu, ia merasa masih mampu bertahan. "Memangpemasukan sedikit sekali, kami sering terpaksa makan apa adanya, tapikami masih bisa bertahan. Di kota besar kayak Jakarta, itu sudahbagus kok," ujar sang istri.

Demikianlah. Meski tersendat-sendat, mereka sudah memilih.

Ia Tidak Berhenti, KarenaHarus Menjadi Pelita Lingkungan

Boleh jadi, pilihan untuk tidak berhenti, didesakpula oleh lingkungan. Namun, tidak semua orang menyambut desakan ini.Waras Soebroto, penduduk desa Kedung Rejo, Kecamatan Muncar,Banyuwangi, Jawa Timur, adalah orang yang mengambil desakan ini.Hasilnya, ia melangkah terus, dan memberi arti positif buatlingkungannya.

Waras sudah bekerja selama belasan tahun sebagaipetugas pengawas hutan lindung. Setiap bulan, ia hanya dibayar 3000(tiga ribu) rupiah. Ia amat prihatin dengan kondisi suaka alam diBanyuwangi, yang dijarah para penebang liar. Inilah awal mulanyaWaras merasa harus melakukan sesuatu: total melindungi suaka alamdengan segala kemampuannya, dengan semua waktu yang ia punya.Termasuk "memerangi" penebangan liar. Resikonya, ia seringmenghadapi ancaman dari penebang liar dan pencuri kayu, bahkan kerapdiisukan akan diguna-guna.

Meski begitu, Waras tidak mundur. Ia merasa tidakboleh mundur, karena lingkungannya akan tambah hancur jika ia memilihjalan itu. Secara kontinyu Waras malah mencoba meyakinkan masyarakat,tentang pentingnya menjaga suaka alam. Ia terus membangun kesadarankolektif. Tidak tanggung-tanggung, Waras akhirnya berhasilmengamankan 6 lokasi suaka alam di daerah Banyuwangi.

Pilihan serupa diambil pula La Ode Muhammad. Iahanyalah satu dari banyak penduduk Desa Wantimoro, Kecamatan Kabawo,Muna, Sulawesi Tenggara. Mulanya, La Ode bersama warga Suku Bajo dikampung Wantimoro tinggal di laut, di atas perahu bido. Suku Bajomemang menjadikan laut sebagai sumber pencaharian, bahkan sebagaitempat berkelana. Namun, kehidupan mereka lama-kelamaan terjepit,akibat potensi ikan makin merosot.

Dalam situasi ini, kekhawatiran soal masa depanmenghinggapi mereka. Hingga La Ode tersadar, ia mesti melakukansesuatu. Lantas, ia mengajak suku Bajo untuk menetap di darat danbertani dengan pola sanitasi. Mereka berhasil. Ratusan kepalakeluarga telah mengubah pola hidupnya, dan mereka mampu bertahan,bahkan tingkat ekonominya terus membaik. Warga menganggap La OdeMuhammad sebagai pelita lingkungannya. Bagi La Ode dan Waras, merekatidak kalah justru karena lingkungannya.

Ia TidakBerhenti, Karena Ia Punya Mimpi

Namanya Az Zamakhsyari. Ia seorang ulama terkenal,ahli dalam banyak ilmu pengetahuan agama. Namun, ia lebih terkenalsebagai tokoh ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab). Menjadiahli dalam ilmu bahasa bagi Az Zamakhsyari adalah keberhasilan yangboleh dibilang sebagai prestasi dan kesuksesan luar biasa dalammenghadapi rintangan. Betapa tidak, sejak kecil ia telah mempelajariilmu nahwu, tetapi hingga menginjak remaja ia tak kunjungpaham dengan ilmu yang dipelajarinya.

Bayangkan, selama bertahun-tahun belajar untukmembedakan antara subyek (mubtada) dan obyek (khabar)saja ia tidak bisa. Sementara teman-temannya, hampir semuanya telahmengusai ilmu itu. Bahkan ada di antara mereka yang diberi tugasuntuk mengajar adik-adik kelas mereka.

Kenyataan ini nyaris membuat Az Zamakhsyari putusasa. Ia merasa malu dengan usianya yang semakin tua tetapi belum tahuapa-apa, apalagi ia harus duduk dan belajar bersama anak-anak yangjauh di bawah usianya. Di tengah kegalauannya ia berniat meninggalkansekolah, pergi merantau untuk mencari ilmu di tempat lain.

Setelah cukup jauh berjalan, ia mampir berteduh disebuah rumah. Ketika sedang beristirahat sambil menyandarkanpunggungnya di tembok, ia melihat seekor semut kecil sedang menggigitsisa kulit korma. Semut itu berusaha menarik kulit korma yangukurannya lima kali lipat lebih besar dari tubuhnya, ke lubang ditembok itu. Berkalikali ia melakukannya namun selalu gagal, kulitkorma selalu jatuh ke tanah. Az Zamakhsyari terpaku melihat kelakuansemut itu, yang mempunyai keuletan mengagumkan.
Setelah berkali-kali gagal, ternyata sang semutberhasil membawa naik kulit korma itu. Saat itu muncullah pemikirandalam benak Az Zamakhsyari, "Seandainya aku melakukan sepertiyang dilakukan semut ini niscaya aku juga akan berhasil."Setelah mengucapkan itu, ia memutuskan kembali ke sekolahnya danmembatalkan niatnya untuk merantau. Hasilnya, Az Zamakhsyaribenar-benar meraih impiannya. Ia menguasai ilmunya sedemikian rupa.Bahkan, ia menjadi tokoh nahwu yang sangat disegani.

Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya termaktubtekad, semangat dan kerja, memang seringkali membuat orang tidak mauberhenti. Bahkan, seekor semut pun, menghayati semangat ini. Apatahlagi, kita, manusia.

Ia Tidak Berhenti, KarenaBatinnya Kaya

Seorang perempuan kurus berkulit gelap tampak dudukdi depan "rumahnya" di sebuah pojok Pintu Air Manggarai,Jakarta Selatan. Dari cangkir plastik yang tak lagi bersih, iamenikmati betul seruputan demi seruputan kopi hangat. "Rumah"perempuan itu hanya susunan papan berbagai bentuk dan ukuran. Adayang berasal dari kotak kayu yang biasa ditemukan di pasar, ada pulayang memanjang. Bagian yang menjadi atap rumah ditutupi selembarterpal warna biru untuk menghalangi kucuran air saat hujan datang.Antara atap dan lantai hanya ada jarak satu meter. Karenanya, setiapkali keluar masuk "rumahnya" perempuan itu harusmembungkuk-bungkuk.

Di ambang pintu yang rendah, sebuah papanpenggilasan pakaian dipasang sebagai jembatan. Di bawahnya, selokankecil meliuk mengalirkan air berwarna hitam kehijauan. Dalamketerbatasan ruang di halaman yang lebarnya hanya setengah meter, iatampak berusaha mempercantiknya dengan lima pot tanaman yang terbuatdari bekas wadah cat tembok. Kelimanya diatur berjajar memanjang.Jadilah gerbang. Sayangnya, daun-daun tanaman dalam pot itu nyarishabis dipatuki ayam peliharaannya yang tak banyak jumlahnya.

Maryati, nama perempuan itu. Wajahnya sudahberkerut-kerut meski usianya belum genap 40 tahun. "Saya sudah25 tahun tinggal di sini," katanya sambil menyebut usianyasendiri, 37 tahun. Ia tinggal bersama suaminya. Karena sempit,Maryati hampir setiap malam tidur di luar rumah. Beralaskan karungdan selembar kain. Kadang tidur di "halaman" dan kadangtidur di atas tumpukan rangka besi besar di samping "rumah".
"Syukurlah ada besi-besi itu. Kalau air sungaimeluap ya cukup terlindungilah, enggak hanyut," kata Maryati.Meski harus tinggal di "rumah" sempit di lokasi yang taksewajarnya, dalam setiap pembicaraannya Maryati selalu mengucapsyukur. "Alhamdulillah, saya masih punya rumah. Kalau enggak disini, mau di mana lagi? Di kampung saya di Indramayu saja masihtinggal di rumah saudara," katanya. "Maklumlah, orangkecil," lanjutnya.

Untuk hidup sehari-hari, Maryati berjualan sayur didekat terowongan Manggarai. Setiap bulan ia mengirim sedikit uanguntuk dua anaknya di kampung. Sekali dalam dua hari, Maryati biasapergi ke Pasar Induk Kramat Jati atau Pasar Minggu. "Beli cabai,tomat, sayur juga," katanya. Namanya berjualan, risiko rugisudah sangat dia pahami tanpa mengeluh. "Nggak apa-apa kalaurugi, udah risiko," begitu ia menyebut.

Penghasilannya yang minim masih harus dikurangiuntuk biaya hidup rutin yang tak bisa dia hindari, misalnya untukmandi, mencuci, dan buang hajat di WC umum. "Kami mandi bayar dikamar mandi umum, air juga harus beli," ujar Maryati, yanglagi-lagi mengucapkan syukur sewaktu menceritakan ada penghasilantambahan selain berjualan sayur.

Meski hidup serba prihatin dan mesti menghadapiberbagai situasi yang tidak nyaman, Maryati tak goyah. Ia tetaptinggal di gubuk kecilnya. Tetap berjalan terus mencari nafkah,bahkan tetap berbagi rejeki dengan keluarganya di desa. Keyakinannya,kalau memelihara waktu-waktu shalat ia akan selalu aman. "Kalaukita shalat lima waktu, pasti aman deh," katanya sambiltersenyum.

Melihat Maryati, kita serasa melihat potret kekayaanbatin. Ini adalah kekayaan hakiki, yang membuat manusia tidak patah,tidak kalah. Sampai kapan pun.

Wallahu'alam
from : LK's blog
kinan imatu

Allah suka pada yang TERAMPIL berkarya


Terinspirasi oleh satu hadist yang berbunyi “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang BERKARYA dan TERAMPIL. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan Seorang Mujahid Fisabilillah” HR.Imam Ahmad

Hadist ini memberikan semangat kepada saya dan suami untuk terus berusaha dan berkarya. Memang, yang berkewajiban mencari nafkah adalah suami, tapi jika istri sanggup membantu suami untuk mencari nafkah juga, maka insyaAllah akan dianggap sebagai sodaqoh. Tidak hanya terpaku pada urusan mencari nafkah, dalam semua hal, insyaAllah jika setiap orang diri berlomba-lomba berbuat kebaikan, nantinya pasti Allah yang membayarnya.

Kita sebagai manusia hanya dituntut untuk bersungguh-sungguh. Dalam hal apapun, baik dalam beribadah ataupun mencari rizky. Jika kita sudah yakin telah bersungguh-sungguh maka tidak usah khawatir jika kita belum mendapatkan hasil yang terbaik, toh usaha kita yang sungguh-sungguh itu sudah dicatat sebagai amal sholeh, insyaAllah.


Jangan lah putus semangat, karena jika tak ada semangat lagi pada diri kita, kita sendirilah yang akan merugi. Bahkan Allah pun memerintahkan kita untuk terus bersemangat mengerjakan kebaikan meskipun dalam keadaan berat (QS. At Taubah: 41)


Di jaman yang serba bersaing ini, marilah kita 'bersaing' dengan sungguh-sungguh. Kerja sekecil apapun sungguh sangat dihargai, setetes peluh akan menjadi secuil berlian di Syurga jika kita niatkan karena Allah, insyaAllah.




Juli 12, 2011

Semangat Baru Mengajar Di Tahun Ajaran Baru

Hello siswa semua
Ayo kita sambut
Hari baru tlah tiba
Apa yang kurasakan
Ku ingin engkau tau
Tentang berbagi bersama
Reff :
Buka kita buka hari yang baru
Sebarkan semangat langkah kedepan
Jadi pribadi baru
Buka kita buka jalan yang baru
tebar kan senyum wajah gembira
Dalam suasana baru
Bukalah bukalah semangat baru 3x
Coba diam walau hanya tuk sejenak
Dengarkan kata dari segala yang kuucap
Menjelang pagi ini nikmati damai dihati
Dalam waktu penuh arti
Karena kita berprestasi

Kuingat kemarin suasana tak bersemangat
Namun kini kujalani
Dan semua rasanya tepat
Bersama kita coba wujudkan harapan
Membuka jalan dalam gapai setiap tujuan
Mentari bersinar selalu
Kini aku minta penuh semangat belajar
Bersamamu siswa semua
Karena ini saatnya kita  jadi juara
Reff
Dengarkan hatimu, pastikan pilihan mu
Esok mentari kan datang
Bawa sejuta harapan
Kita jumpa disini
Berbagi bersama
Dan kita tahu
Juara yang menanti kita
Reff

Oktober 27, 2010

Masalah Perempuan

(Diterjemahkan dari kitab Ar-Ru'yah Asy-Syamilah lil Ikhwanil Muslimin, bab
Al-Ikhwan dan Masalah Perempuan)

Pendapat Syaikh Qardhawy dalam masalah wanita tidak berbeda jauh dengan sikap
resmi Jama'ah Ikhwan terhadap wanita, yang sikap tersebut telah ditulis dan
dipublikasikan oleh jama'ah IKHWAN dalam kitab Ar-Ru'yah Asy-Syamilah/ Visi
Komprehensif, dan bukan sekedar cuplikan dari pendapat si fulan dan si fulin.

Dan sikap Syaikh Al-Qaradhawy tersebut bukan tanpa didukung dalil yang kuat dan
memadai, sama sekali jauh dari tuduhan sebuah media yang "katanya" Islami yang
menuduh sikap tersebut sebagai kontroversial dan menuduh yang mengikutinya
sebagai "Melegitimasi Syahwat Kekuasaan", padahal media tersebut paling tinggi
penulisnya baru Lc, masih jauh panggang dari api bila disandingkan dengan tokoh
sekaliber Syaikh Al-Qaradhawy.
Untuk itu maka disini saya tuliskan secara lengkap dan bersambung (bukan
mencuplik sana dan mencuplik sini, sesuai syahwat insilakh mereka), yaitu 1 bab
dari Sikap Resmi AL-IKHWAN dalam masalah Perempuan, sebagai berikut:

Masalah perempuan

Islam memandang bahwa di dalam diri laki-laki dan perempuan terdapat esensi
insani, kesatuan ciptaan, kesamaan kehormatan, kemanusiaan, dan tanggungjawab.
Karena perempuan adalah belahan dari laki-laki, dan prinsip yang berlaku di
dalam hukum-hukum syari'at adalah kesamaan antara keduanya, kecuali dalam
hal-hal yang dikecualikan oleh Syari', dan itu sedikit jumlahnya. Perbedaan
antara laki-laki dan perempuan hanyalah perbedaan tugas. Merawat keluarga
menjadi tugas pokok terpenting bagi wanita.
Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan kedudukan wanita di dalamnya. Bila
ada kelebihan waktu dan tenaga, maka masyarakat punya hak atas wanita, dan
wanita punya kewajiban untuk berpartisipasi bersama laki-laki. Ini adalah
kewajiban yang terbatas ruangnya sesuai perbedaan kondisi wanita, kondisi
masyarakat, dan fase-fase perkembangan masyarakat.
Hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hubungan komplementasi, bukan
hubungan perseteruan. Hak-hak wanita telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala, bukan sesuatu yang dirampas dari laki-laki. Pilar keluarga muslim adalah
cinta, kasih sayang, dan saling menghormati. Ketika sebuah keluarga kehilangan
cinta, kasih sayang, dan sikap saling menghormati, serta sulit terjalin hubungan
dengan cara yang baik di dalamnya, maka cerai dari pihak laki-laki atau khulu'
dari pihak perempuan menjadi rahmat karena ia bisa menghindarikan
pengaruh-pengaruh negatif dari suami istri.
Partisipasi perempuan dengan laki-laki di berbagai lapangan kehidupan merupakan
perkara wajib untuk menjalankan tugas masing-masing dalam kehidupan. Islam tidak
melarang keterlibatan ini, namun Islam mewarnainya dengan etika-etika syar'i,
sebagaimana Islam mewarnai seluruh bidang kegiatan sosial dengan etika-etika
syar'i. Dari sini, masalah-masalah busana, hijab, dan etika partisipasi sosial
merupakan perkara-perkara yang menjaga dan melindungi aktivitas kaum perempuan,
bukan menghalanginya.
Manhaj Jamaah dalam Menangani Masalah Perempuan
Perempuan adalah separo masyarakat, dan ia menjadi pilar tegaknya generasi, baik
laki-laki atau perempuan. Karena itu, surga berada di bawah telapak perempuan
(ibu). Perempuan adalah makhluk yang suci dan mulia. Allah Subhanahu wa Ta`ala
memuliakan perempuan, sebagaimana Dia memuliakan laki-laki.
"Sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam.." (Al-Isra' : 70)
Perempuan adalah makhluk yang berakal, bijak, dan turut diajak bicara oleh Allah
di dalam al-Qur'an dan Sunnah, sama seperti pembicaraan kepada laki-laki. Ia
juga dibebani kewajiban dan tanggungjawab secara penuh. Jadi, tanggungjawab
pidana dan perdata wanita itu sama seperti laki-laki, dan tanggungan hartanya
juga penuh. Seluruh tindakan finansialnya sah dan berlaku, tanpa membutuhkan
persetujuan suami, atau ayah, atau saudara, atau yang lain.
Ruang lingkup kepemimpinan laki-laki atas istrinya terbatas pada masalah-masalah
rumah tangga saja, dan ini adalah kepemimpinan atas dasar cinta, kasih sayang,
dan musyawarah, sebagai kompensasi dari tanggungjawab yang dipikul laki-laki.
Berangkat dari kedudukan yang mulia ini, kami berpandangan: Hak-hak pribadi
Hak-hak personal adalah hak memilih suami tanpa ada tekanan, paksaan, atau
wasiat; hak mahar, pengasuhan, dan susuan; hak tempat tinggal dan nafkah di masa
`iddah; serta hak kepemilikan dan warisan sebagaimana yang ditetapkan oleh
syari`at.
Hak-hak umum Hak-hak umum adalah hak memerintahkan kebajikan, mencegah yang
mungkar, hak mengajar yang merupakan kewajiban setiap mukmin dan mukminah—yaitu
mengembangkan kepribadian, meningkatkan keberanian dalam menghadapi kehidupan,
berinteraksi dengan suami dan anak-anak, serta mampu bekerja untuk meningkatkan
penghasilan keluarga saat dibutuhkan; hak bekerja karena pekerjaan bagi wanita
adalah hak, bukan kewajiban, kecuali ketika wanita harus melakukan suatu
pekerjaan tertentu, sehingga pekerjaan itu menjadi fardhu `ain atau kifayah
baginya.
Di antara hak wanita adalah terlibat dalam pemilihan umum dewan perwakilan
rakyat dan sejenisnya. Juga menjabat sebagai anggota majelis ini dalam ruang
lingkup yang bisa menjaga kesuciannya, netralitasnya, dan kehormatannya tanpa
ada yang harus dikorbankan.
Termasuk hak wanita adalah memangku jabatan-jabatan publik selain imamah kubra
dan yang sama hukumnya; memberantas buta aksara yang banyak dialami kaum wanita,
terutama di pedesaan; menjamin agar kurikulum pendidikan sesuai dengan watak
wanita, peran dan kebutuhannya; menjaganya di setiap tempat, baik di angkutan
umum atau di tempat-tempat kerja; mendirikan dan mendukung organisasi-organisasi
wanita yang bekerja untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, dan politik
wanita, serta membela hak-hak wanita di dalamnya; membentuk kelompok kerja
wanita dengan didasari pengalaman dan pengetahuan tentang masalah-masalah wanita
di dunia untuk merepresentasikan sudut pandangan Islam di berbagai konggres
wanita dan kependudukan yang diorganisir oleh PBB.

Diambil dari
Situs Al-Ikhwan

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)
Syaikh Utsaimin berkata, "Sesungguhnya pembicaraan tentang
permasalahan-permasalahan agama (tanpa ilmi) adalah sangat berbahaya karena hal
ini merupakan pembicaraan tentang Allah tanpa ilmu" At-Ta'liq Ats-Tsamin hal 322
((Barangsiapa yang berfatwa tanpa ilmu maka dosanya bagi orang yang memberi
fatwa))
HR Abu Dawud 3/321 no 3657, Ibnu Majah 1/20 no 53 dan dihasankan oleh Syaikh
Al-Albani

"Orang-orang itu ada empat macam, (1) seorang yang mengetahui dan tidak
mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia.
(2) Dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu,
itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia. (3) Dan seorang yang
mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka
ikutilah. (4) Dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwsanya ia tidak
tahu, itulah orang tolol maka jauhilah ia" Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam
Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828